Monday, November 18, 2019

Mafia Elpiji Diduga Bermain, Warga Menjerit!

Kelangkaan gas elpiji di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diduga akibat permainan mafia yang ingin mengeruk keuntungan dari barang subsidi tersebut. Gas elpiji yang seharusnya ditujukan pada masyarakat menengah ke bawah, dijual dengan harga tinggi ke daerah perkebunan.

Kondisi demikian membuat stok elpiji tiga kilogram menipis, bahkan sulit diperoleh. hingga membuat warga menjerit, mengingat gas elpiji sangat diperlukan untuk kebutuhan memasak setiap hari.


”Beberapa hari ini nyari gas elpiji sulitnya minta ampun. Itu pun kalau dapat barangnya bisa dijual dengan harga di luar kewajaran,” kata Robi, pedagang rumah makan di Jalan RA Kartini, Kamis (24/10).

Robi menuturkan, gas elpiji yang dibelinya di pedagang eceran dijual dengan harga Rp 35 ribu per tabung. Padahal, harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah untuk elpiji melon tiga kilogram sebesar Rp 17.250 di tingkat pangkalan dan Rp 15.250 di tingkat agen.

”Mau enggak mau tetap beli, kalau nyari di pangkalan juga sering kehabisan,” ujarnya.

Dia menduga kosongnya gas elpiji di beberapa pangkalan karena sudah dipesan orang dari perkebunan sawit dan pedagang eceran.

”Dugaan saya itu memang benar. Barang dijual ke orang sawitan karena mereka mau bayar lebih mahal. Masa barang baru datang dalam sekejap bisa habis. Padahal kami yang tetangga sekitar saja belum tentu semua kebagian,” keluhnya.

Selain diduga diselewengkan ke wilayah perkebunan, gas tersebut diduga dijual ke pedagang eceran, sehingga mafia harga yang ditawarkan melebihi HET yang ditetapkan pemerintah.

”Saya sering lihat pedagang eceran bawa tosa membeli ke pangkalan untuk dijual lagi dengan harga yang lebih mahal untuk cari keuntungan. Padahal, pangkalan kan enggak boleh jual ke pedagang eceran,” tegasnya.

Keluhan serupa disampaikan Rusmiati, ibu rumah tangga yang ingin membeli gas elpiji ke pangkalan. Dia menuturkan, saat melihat truk yang muatan ratusan tabung gas berhenti di sebuah pangkalan, dia langsung bergegas mengikuti untuk mendapatkan barang tersebut.

”Saya tak sengaja melihat ada truk bawa muatan ratusan tabung diturunkan ke pangkalan. Tahu saja nyari gas susah, saat itu langsung saya ikuti truknya sambil membawa tabung gas kosong,” ujarnya.

Setibanya di pangkalan, lanjutnya, pemilik pangkalan tetap melayani dengan baik. Namun, pedagang tersebut meminta Rusmiati agar keberadaan gas elpiji yang tersedia jangan sampai diketahui  oleh warga yang lain.

Gambar hanya pemanis saja :v
”Saya tetap dilayani. Masa barang jelas-jelas datang dia tak mau melayani kita sebagai warga. Tetapi, pas mau bayar saya tak menyangka dia (pedagang, Red) nyuruh saya supaya jangan bilang warga yang lain kalau gas elpiji datang,” ujarnya.

Lestari, pedagang rumah makan di Jalan Ki Hajar Dewantara juga kesulitan mencari gas elpiji. Apabila dapat, harganya tinggi, sekitar Rp 38 ribu per tabung.

”Kalau di pangkalan harganya Rp 23 ribu, tetapi barangnya cepat habis. Itu pun kalau barang datang harus mengantre panjang. Kalau sudah perlu, kami kan tak bisa menunggu lama-lama, ya cari saja di pedagang eceran yang harganya Rp 38 ribu sampai Rp 40 ribu,” ujarnya.

Penelusuran Radar Sampit, Pangkalan Usaha Dagang (UD) Norma menjual harga gas elpiji sebesar Rp 22 ribu. ”Kalau untuk warga sekitar, saya jual Rp 22 ribu, tetapi kalau warga yang jauh saya jual Rp 23-24 ribu per tabung. Kalau memang langka saya jual sampai Rp 25 ribu,” kata pria yang tidak mau disebutkan namanya ini.

Dia mengaku dalam satu minggu mendatangkan tabung sebanyak dua kali. ”Tergantung, kadang bisa sepuluh hari baru datang. Untuk satu kali datang bisa 160 tabung. Belum lagi ongkos bongkar muatnya, kami bayar secara sukarela. Makanya harganya segitu,” ujarnya.

Pangkalan lainnya, UD Rahman, tetap menjual dengan harga Rp 20 ribu dan tidak melayani pengecer. ”Saya jual hanya untuk masyarakat sekitar saja. Ini pun sudah habis punya pesanan tetangga semua. Dalam satu minggu datang 200 tabung. Dari agen saya beli sudah Rp 15 ribu per tabung,” katanya.

Pangkalan UD Saleh yang membeli gas di Agen PT Haji Asmuni, mengaku tetap menjual dengan harga Rp 20 ribu per tabung kepada masyarakat. Di depan kiosnya terpampang jelas spanduk tidak menjual gas elpiji 3 kg kepada pengecer/warung.

”Banyak saja orang sawitan yang mintanya beli banyak, tetapi saya tetap kasih cuma dua saja maksimal. Kalau saya beri buat orang sawitan, kasihan masyarakat di sini tak kebagian. Makanya kalau ada pangkalan banyak yang bilang kosong, mungkin mereka menjual ke sawitan, karena mereka mau beli lebih mahal, tetapi saya tetap jual sesuai aturan saja,” kata pemilik pangkalan.

Sukron, pedagang di warung yang menjual gas elpiji mengaku menjual dengan harga Rp 30 ribu. ”Saya mengambil dari teman saya juga. Teman saya yang beli di pangkalan. Saya beli dari dia sudah Rp 27 ribu, ya saya jual Rp 30 ribu. Itu pun saya beli tak banyak. Paling tiga sampai lima tabung saja,” kata Sukron, warga Jalan Jaya Wijaya.

Sukron mengaku tidak mengetahui ada aturan https://www.mafiaharga.com yang tidak memperbolehkan pedagang kios/warung kecil berjualan gas elpiji. ”Saya tahunya jualan saja. Kadang-kadang masyarakat disini ada yang tanya jadi saya sediakan saja,” ujarnya.

Informasi yang dihimpun, di wilayah Sampit ada sekitar enam agen resmi yang menjual gas elpiji tiga kilogram, yakni PT Altana, PT Mathilda Jamrud Narang, PT Haji Asmuni Nasrie, PT Lampang, PT Muadita Cahaya Biru, dan PT Harapan Mentaya.

Sumber: https://sampit.prokal.co

Mafia Elpiji Diduga Bermain, Warga Menjerit! Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Nilsa

0 comments:

Post a Comment